Setiaji Pamungkas

This blog contains my work whether it be photography, design, vector, images, videos, tutorials and also my college assignments.

Tag Archives: Article

Memahami Ruang Tajam

Memahami Ruang Tajam

Imlek Tahun Baru China

Imlek Tahun Baru China

Memahami Ruang Tajam

Pernahkah Anda foto model berlatar belakang blur? padahal, kalau kita memotret teman kita dengan kamera kompak tanpa zoom latar belakangnya terlihat jelas. Mengapa demikian?

Dalam sebuah foto , focus adalah hal kedua terpenting setelah pencahayaan akurat. Anda mungkin pernah meliat foto blur alias tidak focus. Tentu foto tersebut jadi tidak menarik. Sebaliknya, subjek dan latar belakang tampil tajam (tidak blur), foto jadi lebih berkomunikasi dan menarik. Namun, tidak selamanya latar belakang tajam mendukung subjek. Terutama saat kita memotret model. Kita pasti ingin model tersebut sebagai subjek tampil dominan. Lalau bagaimana cara? Kuncinya adalah Pengaturan depth of field.

Apa itu depth of field (ruang tajam)? Istilah ini sering mengemuka di dalam dunia fotografi. Tetapi, ketika ditanya pengertiannya, banyak pencinta fotografi menggelengkan kepala. Mungkin karena kurang paham atau tidak tahu sama sekali. Pengertian ruang tajam adalah daerah sekitar subjek, baik depan maupun belakang yang tampil tajam (focus) dalam foto.
Ukuran runag tajam dinyatakan dengan kedalaman. Titik acuannya adalah posisi lensa kamera. Dengan demikian, kedalam ruang tajam (KRT) adalah jarak titik tajam pertama hingga titik tajam terakhir terhadap lensa kamera. KRT dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu :
1. Bukaan Diagfragma
Semakain kecil bukaan, semakain besar KRT. Sebagai contoh bukaan f/16 kebanyakan lensa normal (50mm) jika berhadapan dengan subjek sejauh 4,8 m akan memiliki ruang tajam mulai dari 2,4 m didepan lensa sampai jarak tak terhingga. KRT akan berubah jika bukaan diagfragma lensa tersebut diubah menjadi f/2. Dalam kondisi ini, hanya subjek saja yang tampak tajam sedangkan latar belakang dan subjek blur. Diantara kedua bukaan diatas, bukaan f/5,6 memiliki ruang tajam pada jarak 0,9-1,8 m didepan lensa.

2. Jarak Subjek-Lensa
Efek jarak subjek ke lensa terhadap KRT sangat menarik. Intinya kian dekat jarak subjek dengan lensa, kian sempit ruang tajam yang dihasilkan. Meskipun kita menggunakann bukaan digfragma f/16 pada subjek 90cm di depan lensa, KRT diperoleh maksimal hanya 30cm. terlebih dengan bukaan f/2, andai subjeknya adalah wajah manusia, maka hanya mata saja ynag focus. Sementara, hidung dan telinga blur.

3. Panjang Fokal
Makin pendek-panjang fokal (lensa lebar, lebih kecol dari 50mm), makin dalam ruang tajam yang didapat. Efek ini terjadi walaupun bukaan diagfragma lensanya sama. Memahami hal ini, dapat dijelaskan pula mengapa lensa sudut lebar (wide angel) memberikan ruang tajam lebih dalam dibandingkan lensa tele pada bukaan f/11.

Selain ketiga factor utama diatas, ada factor tambahan lain yang juga mempengaruhi kedalaman ruang tajam yaitu kecepatan /ISO Film. Semakain tinggi ISO Film, semakin tinggi bukaan digfragma (KRT meningkat) dapat digunakan pada rana yang sama. Sebagai ilustrasi, kombinasi bukaan diagfragma dan kecepatan rana hasil pengukuran cahaya suatu subjek dengan film ISO 100 adalah f/4 dan 1/125 detik. Dengan ISO 200, bukaan bisa dinaikan 1 stop menjadi f/5,6 dengan kecepatan rana tetap.

Mengendalikan kedalaman
Pemahaman kita akan ketiga factor utama penentu kedalaman ruang tajam sangat membantu kita mengendalikanya. Misalnya, kita ingin membuat foto dengan latar belakang blur. Maka, kita harus mengatur ulang kombinasi bukaan digfragma dan kecepatan rana hasil pengukuran normal. Andaikata hasil pengukuran normal menghasilkan kombinasi f/5,6 dan 1/125 detik, maka bukaan kita perbesar menjadi 1/500 detik (naik 2 stop).
Namun, tidak selalu bisa kita bisa menciptakan kedalaman ruang tajam yang diinginkan pada setiap subjek. Ada kalanya kita harus berkompromi. Contohnya, bila kita ingin membekukan orang sedang berlari. Mau tidak mau kita harus menggunakan kecepatan rana tinggi minimal 1/250 -1/500 detik. Konsekuensinya kita harus menggunakan bukaan diagfragma besar yang memiliki KRT kecil.
Tuntas memahami ruang tajam ini, akan lebih bermanfaat bila kita segera mencobanya dalam berburu foto. Jiaklau kita telah menguasi keterampilan mengatur KRT, berarti kita telah mengiasai salah satu trik fotografi. Ya, trik menghadirkan citra berbeda dari yang terlihat oleh kasat mata . itulah seni fotografi.

Sumber Rujukan:
(pelajaran memotret, memahami ruang tajam : majalah fotomedia)

KAMPUNG KUTA

KAMPUNG KUTA

Observasi Umum Kampung Kuta

Observasi Umum Kampung Kuta

Observasi Khusus Kampung Kuta

Observasi Khusus Kampung Kuta

KAMPUNG KUTA

 

LAPORAN KULIAH LAPANGAN DAN OBSERVASI KAMPUNG KUTA:

PENDAHULUAN

I. Latar belakang
Kenyataan-kenyataan yang terjadi dalam alam semesta ini dapat menggambarkan proses-proses perubahan untuk melindungi budaya local (local heritage), dari proses globalisasi yang mulai merambah budaya yang sudah di bangun oleh nenek moyang.
Oleh sebab itu untuk mendukung upaya pemerintah untuk menjaga kekayaan budaya yang ada di Indonesia, dan untuk mendukung tercapainya tujuan dari Mata kuliah Budaya Sunda. Serta untuk memahami apa itu Budaya Sunda. Karena orang sunda pada umumnya berfikir sama bahwa hidup ini tidak berlangsung di dunia saja tetapi juga di kehidupan lain (Asep Samsulbachri :1998).
Sebab itu kuliah Budaya Sunda tidak cukup hanya diberikan kepada mahasiswa dikelas saja tetapi harus diberikan kepada mahasiswa diluar kelas. Maka dari itu diadakanlah kuliah lapangan serta observasi ke Kampung Kuta yang terletak di Banjar, kabupaten Ciamis Jawa Barat.
Kuliah umum ini besar peranannya untuk meningkatkan pengetahuan para mahasiswa khususnya mahasiswa jurusan Fotografi dan Film Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan Bndung, maka dari itu tujuan, ruanglingkup (observasi umum dan khusus) diformulasikan secara jelas dalam kuliah mlapangan ini.

II. Gambaran umum Kampung Kuta
Terletak di Desa Karangpaninggal Kecamatan Tambaksari, masyarakatnya sampai saat ini masih memegang teguh melestarikan adat leluhurnya (karuhun), amanat leluhurnya yang masih dipertahankan antara lain :
• Rumah panggung yang harus beratap rumbia atau injuk (tidak boleh permanen)
• Bentuk rumah persegi dan tidak boleh berbentuk sikon
• Penduduk yang meninggal harus dimakamkan di luar Kampung Kuta
• Boleh ketempat keramat selama hari senin dan jumat
• Tidak boleh menggunakan pakain yang serba hitam

Kampung yang berada diperbatasan Jawa Barat dan Jawa tengah ini kini sudah mulai modern sejak listrik masuk kedaerahnya pada tahun 1994. Tapi kampong ini pernah mendapat penghargaan dari presiden pada tahun 2002 tentang penyelamat lingkungan.

III. Tujuan
Tujuan secra umum dari kuliah lapangan ini adalah agar mahasiswa jurusan Fotografi dan Film dapat mengenal, mengamati serta memahami keterkaitan budaya sunda yang selama ini mereka dapat dalam perkuliahan.
Tujuan khusus dari kuliah lapangan ini adalah :
• Memahami keadaan di kampung kuta sesuai dengan pemahaman mahasiswa itu sendiri
• Memahami karakteristik masyarakat kampung kuta, serta dapat menunjukan kekhasan dari kampung kuta, yang mungkin tidak dapat dujumpai di kampung adat lainya.

IV. Metode
a) Tahap persiapan
Sebelum berangkat ke lokasi/lapangan, mahasiswa diharapkan membaca buku, baik artikel internet, majalah atau buku-buku yang terkait dengan lokasi utnuk memudahkan pemahaman di lokasi kuliah lapangan.

b) Tahap kuliah lapangan
Pada thaap ini mahasiswa diharapkan mendengarkan, memperhatikan, mencatat, mendokumentasikan, menggambarkan hal-hal penting dari penjelasan dari nara sumber. Pada tahap ini terbagi 2 bagian yaitu :

1) Observasi umum
2) Observasi khusus

c) Tahap pasca kuliah lapangan
Pada akhir kuliah lapangan ini diharapkan seluruh mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini memberikan sebuah laporan dalam bentuk makalah dan dilampirkan foto ukuran 8R masing-masing 1 (satu untuk observasi umum, satu untuk observasi khusus).

V. Kajian budaya Sunda di Kmpung Kuta
10 unsur Budaya Sunda
1. PERDATA
2. LAMBAGA
3. WINAYA
4. WIYASA
5. UNDAGI
6. MARGA
7. TANI
8. SANTIKA
9. HUSADA
10. TATA PRAJA

GAMBARAN UMUM

Kampung Kuta terletak di Desa Karangpaninggal, kecamatan Tambaksari Jawa barat. Masyarakat nya masih memegang teguh melestarikan budaya adat leluhurnya (karuhun), amanat leluhur yang masih dipertahankan antara lain :
1) Rumah panggung yang harus beratap rumbia atau injuk dan tidak boleh permanent, dengan beratap rumbia rumah bisa bertahan 5 tahun dan jika di tambahkan dengan ijuk bisa bertahan selama 35 tahun.
2) Bentuk rumah persegi dan tidak boleh berbentuk sikon, maksudnya tidak boleh membentuk leter U, leter L dan lainnya.
3) Penduduk yang meninggal harus dimakamkan di luar Kmpung Kuta, maksudnya untuk menjaga kesucian kampong kuta sesuai dengan amanah leluhur tetapi apabila yang meninggal baru lahir dan tidak memiliki dosa, boleh dimakamkan di kampong kuta.
4) Boleh ketempat keramat selama hari senin dan jumat saja, di dalam tempat keramat tidak boleh membawa barang-barang yang terdapat di hutan keramat seperti ranting, daun, batang, pohon dan sebagainya. Itu karena jika diperbolehkan mengambil dari hutan keramat sedik saja nanti bisa menjadi besar seperti dari kayu bakar sampai pohonnhnya dan hutannya bisa habis. Dihutan larangan tidak boleh meludah saat nyipuh, yaitu saat membasuh dari air suci.
5) Tidak boleh menggunkan pakaian serba hitam, karena bisa menyamai penghuni hutan,

Kampung yang berada diperbatasan Jawa Barat dan Jawa tengah ini kini sudah mulai modern sejak listrik masuk kedaerahnya pada tahun 1994. Tapi kampong ini pernah mendapat penghargaan dari presiden pada tahun 2002 tentang penyelamat lingkungan.
Untuk sekarang masyarakat yang tinggal di kampong kuta sekitar 120 kepala keluarga, sebagian besar para masyarakat kampong kuta berurbanisasi ke perkotaan.
Ketua adat memimpin kampong, mengurus masyarakat mengurus adat dan mengatur semua yang berhubungan dengan adat. Sedangkan untuk kuncen, hanya mengantar ke hutan keramat. Untuk kuncen ini, biasanya turun temurun dari leluhurnya biasanya diturunkan kepada anak laki-laki paling besar.

OBSERVASI

1. OBSERVASI UMUM
Untuk observasi umum ini mencakup keseluruhan yakni 10 unsur budaya sunda, diantaranya :
1) Perdata (hubungan antar manusia)
Hubungan antar manusia di kampung kuta sangat menjunjung kekeluargaan serta saling menghargai. Selain itu cukup bisa menerima kedatangan orang lain dengan baik, memiliki solidaritas yang tinggi serta sangat erat dengan persaudaraan. Hal ini dengan didukung oleh sumber air yang memusat, sehingga saat masyarakat kampung kuta membutuhkan air akan memungkinkan terjadi komunikasi-komunikasi dan informasi mengenai warga yang lain baik yang sedang sakit, butuh bantuan, maupun akan mengadakan acara.

2) Lambaga (adat istiadat)
Adat istiadat di kampung kuta yakni adanya upacara sembah sedekah bumi, syukuran, upacara nyuguh bulan maulud, itu semua untuk memberi bakti pada leluhur, untuk menolak bala, untuk minta keselamatan dan juga upacara hajatan dll. utnuk saat ini adat di kampong kuta sudah terkontaminasi pengaruh luar yakni terpengaruh kemodernisasian. Tetapi masih memegang teguh adat istiadat (amanah).

3) Winaya (pendidikan)
Pendidikan pada hakekatnya adalah upaya untuk meningkatkan mutu nilai taraf hidup dalam besosialisasi. Pendidikan merupakan dasar dari pembentukan jati diri setiap individu.
Pendidikan di kampung kuta rata-rata berpendidikan SD (sekolah dasar) karena SD merupakn sekolah yang terdekat yang terdapat di kampung kuta. Metode pendidikan di kampong kuta menggunakan metode serogan (seperti di pesantren) yaitu muridnya disejajarkan dan diberi pelajaran. Biasanya dari jam 1 sampai jam 4, anak-anak dikumpulkan diberi pelajaran. Letak SMP dan SMA sangat jauh dari kampong kuta. Bukan tidak memungkinkan didirikannya SMP dan SMA di kampong kuta tetapi karena masyarakatnya sedikit jadi sulit untuk dososialisasikan.

4) Wiyasa (seni)
Seni menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai suatu karya yang diciptakan dengan keahlian yang luar biasa. Seni adalah karya yang berasal dari peniruan bentuk alam dengan segala segi-seginya atau mendekati bentuk alam/natural. (Plato)
Seni yang terdapat di Kmpung Kuta ini adalah seni terebang, seni ronggeng gunung, seni dogdog, seni ngibing, serta terdapat kerajinan-kerajinan tangan seperti anyaman bilik, anyaman tas kamuti dari daun gebang, ulekan, sinduk, temapat nasi (boboko), nampan (baki), topi petani dll.
Utnuk seni terebang dan ngibing ini biasanya dilakukan pada bulan safar yakni pada tanggal 25.

5) Undagi (tata arsitektur)
Bangunanya harus sesuai dengan amanat leluhur yaitu harus Rumah panggung yang harus beratap rumbia atau injuk dan tidak boleh permanent, tidak boleh terdiri dari batu-bata, semen serta harus beratap rumbia rumah bisa bertahan 5 tahun dan jika di tambahkan dengan ijuk bisa bertahan selama 35 tahun.
Bentuk rumah persegi dan tidak boleh berbentuk sikon, maksudnya tidak boleh membentuk leter U, leter L dan lainnya.
Tetapi isi rumah dan denahnya sesuai dengan individu. Kecuali letak pintu yang harus disesuaikan dengan tanggal lahir.

6) Marga (transportasi)
Transportasi di kampung kuta sudah mulai modern, itu ditunjukan dengan adanya sepeda motor sebagai kendaraan. Sepeda motor juga biasa digunakan untuk mengangkut hasil tani.

7) Tani (bersawah)
Pertanian yang ada di kampung kuta menggunakan system tadah hujan, karena tidak ada perairan dan irigasi. Dimasyarakat kampong kuta mengolah pertaniannya secara individu, etapi juga bisa diburuhkan dan juga bisa dikerjakan dengan membagi hasil tani.
Pertanian dikampung kuta biasanya selalu memanfaatkan lahan yang kosong, misalnya saat menanam padi telah selesai ataupun gagal bisa ditanamkan tanaman yang lain, seperti jagung, kacang tanah, dll.

8) Santika (bela diri)
Utnuk seni bela diri di kampung kuta ini tidak ada. Utnuk yang ingin belajar bela diri, bisa belajar dari kampung lain.

9) Husada (obat-obatan)
Pengobatan dikampung kuta pada umumnya berobat pada ilmu kedokteran juga tetapi masih juga menggunakan obat-obatan tradisional seperti masyarakat sunda lainnya, baik dari tumbuhan maupun hewan. Seperti penggunaan daun sirih untuk panas dalam (mimisan), pucuk jambu klutuk untuk sakit perut dll.

10) Tata praja (system pemerintahan)
Untuk sistem pemerintahan di kampung kuta ini dipimpin oleh ketua adat yang senantiasa mengurus masyarakat, mengurus adat dan yang lainnya yang berhubungan dengan adat sampai pada proses administrasi. Di kampung kuta juga terdapat kepala dusun, lurah, RT/RW, dan juga kuncen.
Ada pun yang disebut kuncen adalah orang yang menjaga hutan keramat dan mendampingi siapa saja yang ingin mengunjungi hutan keramat, kuncen ini meneruskan amanah dari leluhur. Yang pernah menjadi kunceng di kampong kuta antara lain : Ki bumi, ki Dano, Ki Mainah, Ki Rasubangsa, Ki Rasipan, Ki Karsan, Ki Srasaji, Ki Matarji dan yang saat ini menjadi kuncen yaitu Ki Maryono.
Pada tahun 2002 bersamaan dengan kalpataru mengajukan kampung adat ke provinsi kabupaten. Ketua adat dipilih oleh masyarakat, tidak ada periode waktunya sampai kapan menjabat sebagai ketua adat. Tetapi sampai sudah merasa tidak mampu, dan untuk saat ini yang menjabat ketua adat kampong kuta adalah bapa Karman. Beliau menjabat dari tahun 2002 sampai sekarang tahun 2009.
Utnuk keamanan di kampung kuta ini sangat terjamin sebab semua masyarakat saling bersatu dan saling menjaga.

2. OBSERVASI KHUSUS
Observasi khusus yang saya pilih adalah mengenai Wiyasa (Seni).
Seni berasal dari kata Sani yang artinya Jiwa yang luhur / ketulusan hati. Seni dapat pula dikatakan sebagai sebuah “Art” yang artinya barang / karya sebuah kegiatan. Seni adalah kesanggupan akal manusia untuk menciptakan sesuatu karya yang bermutu dan bernilai tinggi. Seni adalah salah satu manifestasi dan pancaran rasa keindahan, pemikiran, kesenangan dan perasaan yang lahir dari seniman. Ini merupakan hasil ide para seniman yang berlandaskan imajinasi, pengetahuan, pendidikan, inspirasi, dan tenaga seniman.

Seni menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai suatu karya yang diciptakan dengan keahlian yang luar biasa. Seni adalah karya yang berasal dari peniruan bentuk alam dengan segala segi-seginya atau mendekati bentuk alam/natural. (Plato)

Seni yang terdapat di Kampung Kuta ini adalah seni terebang, seni ronggeng gunung, seni dogdog, seni ngibing, serta terdapat kerajinan-kerajinan tangan seperti anyaman bilik, anyaman tas kamuti dari daun gebang, ulekan, sinduk, temapat nasi (boboko), nampan (baki), topi petani dll.

1) Seni terebang
Kesenian Terbang tumbuh dilingkungan Masyarakat dan lingkungan masyarakat dan diakui sebagai kesenian Rakyat kesenian rakyat , kesenian terebang disebut juga dengan Terebang Gede , Terebang gebes, terebang ageung dll di Desa Karangpaninggal Kecamtan Tambaksari masih mengadakan upacara untuk menghindari malapetaka dengan mengadakan kesenian terebang yang khas dan unik yang diturunkan dari generasi ke generasi .
Dengan bergesernya kesenian terebang menjadi hiburan yang lebih luas maka kesenian tersebut mengalami perubahan alat musik dan lagu-lagu nya, penambahan alat musik seperti kendang , terompet, goong bahkan alat musik moderen seperti organ dan gitar lagu yang asalnya bernafaskan Islam bergeser menjadi lagu rakyat seperti lagu botol kecap , tepang sono , buah kawung , ayun ambing , kukupu hiber dll juga menjadi lagu pop Sunda seperti lagu botol kecap dll .

2) Ronggeng gunung
Untuk kesenian ronggeng gunung ini untuk di desa Karapaninggal ini khususnya di kampung kuta sudah tidak ada, pada awalnya ada. Namun seiring waktu kesenian ronggeng gunung pun punah.
Kesenian ronggeng gunung berkembang di Banjarsari Ciamis, Ronggeng Gunung, sebenarnya masih dalam koridor terminologi ronggeng secara umum, yakni sebuah bentuk kesenian tradisional dengan tampilan seorang atau lebih penari. Biasanya, dilengkapi dengan gamelan dan nyanyian atau kawih pengiring. Penari utama, seorang perempuan, dilengkapi sebuah selendang. Fungsi selendang, kadang untuk kelengkapan dalam menari. Tapi juga bisa untuk “menggaet” lawan biasanya laki-laki untuk menari bersama dengan cara mengalungkannya.
Untuk pola gerak Ronggeng Gunung, dipandang menjadi akar ronggeng pakidulan, nayaga yang mengiringinya (penabuh gamelan) cukup tiga orang. Hanya dengan bonang, gong, dan kendang, dan sejumlah lelaki yang mengelilingi penari, Ronggeng Gunung sudah bisa digelar. Biasanya, lelaki yang mengelilingi penari itu punya ciri khas, bagian kepala ditutup menggunakan sarung. Sehingga yang terlihat hanya bagian mukasaja. Lagu yang dilantunkan penari ronggeng pun sangat unik dan khas. Para pengamat seni menilai alunan suaranya sangat spesifik. Dan tidak ditemukan dalam kawih atau tembang Sunda lain.
Bagi masyarakat Ciamis selatan, kesenian ronggeng gunung pada masa jayanya bukan hanya merupakan hiburan. Kesenian tersebut sekaligus menjadi pengantar upacara adat.
Dalam mitologi Sunda, Dewi Siti Samboja atau Dewi Rengganis hampir sama dengan Dewi Sri Pohaci yang selalu dikaitkan dengan kegiatan bertani. Karena itu, tarian dalam ronggeng gunung melambangkan kegiatan Sang Dewi dalam bercocok tanam. Yakni, sejak turun ke sawah, menanam padi, memanen, sampai kahirnya syukuran karena panen telah berhasil.
Bahkan, pada saat petani mengharapkan turun hujan, ronggeng gunung dipanggil sebagai mediator. Dalam karya tugas akhir di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung (1985), Nesri Kusmayadi mengungkapkan, Nyi Ronggeng berkeliling kampung seraya membawa kucing. Jika menemukan sumur atau sungai yang masih ada airnya, binatang peliharaan itu kemudian dimandikan.

3) Seni dogdog
Dogdog merupakan alat musik yang terbuat dari kayu bulat, tengahnya diberi rongga, namun pada kedua ujung ruasnya mempunyai bulatan diameter yang berbeda kurang lebih 12 -15cm, dengan panjang 90cm. pada ujung bulatan yang paling besar ditutup dengan kulit kambing yang telah dikeringkan dan diikat dengan bamboo melingkar yang dipasangkan untuk menyetel suara atau bunyi. Suara yang dihasilkan berbunyi dog dog dog (dalam telinga orang sunda). Oleh karena iru alat ini diberi nama dog dog.
Seni dog dog di kampong kuta pernah mendapat penghargaan pada tahun 2002, memenagkan perlombaan seni, yang bertepatan diberikannya kalpataru kepada kampong kuta sebagai penghargaan atas kampung yang menjaga lingkungan nya dengan baik.

4) Ngibing
Seni ngibing merupakan seni tari yang biasa dilakukan oleh masyarakat sunda dan juga yang dilakukan oleh masyarakat kampong kuta. Biasanya dilakukan atau ditampilkan pada saat upacara adat, hajatan, pernikahan, acara perayaan atau pun memperingati sesuatu karena ungkapan rasa bahagia.

5) Tas kamuti
Merupakan salah satu kerajinan tangan dari masyarakat kampung kuta. Biasanya dijadikan cendra mata yang merupakan cirri khas kampong kuta dan juga dijual di luar kampong kuta, biasanya mendapat pesanan dari luar kota bisa mencapai 100-200.
Tas kamuti terbuat dari daun gebang yang diambil dari hutan di banjar. Tas ini memiliki keunikan karena dibuat dalam satu dahan dan hanya menjadi 1 tas saja setiap dahannya. Serta dalam pembuatannya dahan tidak terputus dengan daun dan menyambung terus hingga membentuk sebuah tas.

6) Bilik anyaman
Bilik anyaman merupakan salah satu kerajinan tangan masyarakat kampung kuta. Pada awalnya pembuatan bilik anyaman ini digunakan ,untuk membangun rumah mereka, namun seiring waktu potensi masyarakat kampong kuta mulai terlihat sehingga kerajinan bilik anyaman menjadi salah satu mata pencaharian untuk dijual. Tidak ada arti khusus dari lajur anyamannya. Bilik anyaman ini digunakan untuk membangun rumah masyarakat kampung kuta, namun tidak menutup kemungkinan juga masyarakat membeli bilik anyaman dari pengrajin yang lain.

KESIMPULAN

Kampung kuta merupakan salah satu kampung keramat yang masih sangat kental adat istiadat serta kesuciannya. Tidak seperti kampung adat yang lain, kampung kuta memiliki tanah pribadi yang dapat digunakan oleh individu kampung kuta tetapi tetap menjaga syar’I amanah dari leluhurnya untuk menjaga kesucian kampung kuta.
Kampung kuta terletak di desa Karangpaningal kecamatan Tambaksari, masyarakatnya sampai saat ini masih memegang teguh melestarikan kebudayaan adat leluhurnya (karuhun), amanat yang masih tetap dipertahankan antara lain :
• Rumah panggung yang harus beratap rumbia atau ijuk (tidak boleh permanent)
• Bentuk rumah persegi tidak boleh sikon
• Penduduk yang meninggal harus dimakamkan di luar kampong kuta
• Boleh ke tempat keramata hari senin dan jumat
• Tidak boleh menggunkan pakaian serba hitam

Kampung kuta memiliki kerajinan tangan khas, yaitu tas kamuti. Tas kamuti terbuat dari daun gebang yang diambil dari hutan di banjar. Tas ini memiliki keunikan karena dibuat dalam satu dahan dan hanya menjadi 1 tas saja setiap dahannya. Serta dalam pembuatannya dahan tidak terputus dengan daun dan menyambung terus hingga membentuk sebuah tas.

Adapun 10 unsur budaya sunda di kmapung kuta tidak seluruhnya terdapat di kamapung kuta, dua diantaranya adalah marga (transportasi) karena di kampong kuta sudah moderenisasi dalam transportasi dan santika (bela diri) karena di kmapung kuta untuk belajar seni bela diri harus belajar dari luar kampong.

SUMBER RUJUKAN
• Bapak Karman (selaku kepala desa kampong kuta)
• Ki Maryono (selaku kuncen kampong kuta)
• Buku panduan kuliah lapangan Budaya Sunda
http://www.http//:keseniansenidanbudaya.blogspot.com
• BudayaSunda.mbm.19770903.KT75404.id.html
http://www.http//:wikipedia.kampungkuta.org

%d bloggers like this: