Setiaji Pamungkas

This blog contains my work whether it be photography, design, vector, images, videos, tutorials and also my college assignments.

Memahami Ruang Tajam

Memahami Ruang Tajam

Imlek Tahun Baru China

Imlek Tahun Baru China

Memahami Ruang Tajam

Pernahkah Anda foto model berlatar belakang blur? padahal, kalau kita memotret teman kita dengan kamera kompak tanpa zoom latar belakangnya terlihat jelas. Mengapa demikian?

Dalam sebuah foto , focus adalah hal kedua terpenting setelah pencahayaan akurat. Anda mungkin pernah meliat foto blur alias tidak focus. Tentu foto tersebut jadi tidak menarik. Sebaliknya, subjek dan latar belakang tampil tajam (tidak blur), foto jadi lebih berkomunikasi dan menarik. Namun, tidak selamanya latar belakang tajam mendukung subjek. Terutama saat kita memotret model. Kita pasti ingin model tersebut sebagai subjek tampil dominan. Lalau bagaimana cara? Kuncinya adalah Pengaturan depth of field.

Apa itu depth of field (ruang tajam)? Istilah ini sering mengemuka di dalam dunia fotografi. Tetapi, ketika ditanya pengertiannya, banyak pencinta fotografi menggelengkan kepala. Mungkin karena kurang paham atau tidak tahu sama sekali. Pengertian ruang tajam adalah daerah sekitar subjek, baik depan maupun belakang yang tampil tajam (focus) dalam foto.
Ukuran runag tajam dinyatakan dengan kedalaman. Titik acuannya adalah posisi lensa kamera. Dengan demikian, kedalam ruang tajam (KRT) adalah jarak titik tajam pertama hingga titik tajam terakhir terhadap lensa kamera. KRT dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu :
1. Bukaan Diagfragma
Semakain kecil bukaan, semakain besar KRT. Sebagai contoh bukaan f/16 kebanyakan lensa normal (50mm) jika berhadapan dengan subjek sejauh 4,8 m akan memiliki ruang tajam mulai dari 2,4 m didepan lensa sampai jarak tak terhingga. KRT akan berubah jika bukaan diagfragma lensa tersebut diubah menjadi f/2. Dalam kondisi ini, hanya subjek saja yang tampak tajam sedangkan latar belakang dan subjek blur. Diantara kedua bukaan diatas, bukaan f/5,6 memiliki ruang tajam pada jarak 0,9-1,8 m didepan lensa.

2. Jarak Subjek-Lensa
Efek jarak subjek ke lensa terhadap KRT sangat menarik. Intinya kian dekat jarak subjek dengan lensa, kian sempit ruang tajam yang dihasilkan. Meskipun kita menggunakann bukaan digfragma f/16 pada subjek 90cm di depan lensa, KRT diperoleh maksimal hanya 30cm. terlebih dengan bukaan f/2, andai subjeknya adalah wajah manusia, maka hanya mata saja ynag focus. Sementara, hidung dan telinga blur.

3. Panjang Fokal
Makin pendek-panjang fokal (lensa lebar, lebih kecol dari 50mm), makin dalam ruang tajam yang didapat. Efek ini terjadi walaupun bukaan diagfragma lensanya sama. Memahami hal ini, dapat dijelaskan pula mengapa lensa sudut lebar (wide angel) memberikan ruang tajam lebih dalam dibandingkan lensa tele pada bukaan f/11.

Selain ketiga factor utama diatas, ada factor tambahan lain yang juga mempengaruhi kedalaman ruang tajam yaitu kecepatan /ISO Film. Semakain tinggi ISO Film, semakin tinggi bukaan digfragma (KRT meningkat) dapat digunakan pada rana yang sama. Sebagai ilustrasi, kombinasi bukaan diagfragma dan kecepatan rana hasil pengukuran cahaya suatu subjek dengan film ISO 100 adalah f/4 dan 1/125 detik. Dengan ISO 200, bukaan bisa dinaikan 1 stop menjadi f/5,6 dengan kecepatan rana tetap.

Mengendalikan kedalaman
Pemahaman kita akan ketiga factor utama penentu kedalaman ruang tajam sangat membantu kita mengendalikanya. Misalnya, kita ingin membuat foto dengan latar belakang blur. Maka, kita harus mengatur ulang kombinasi bukaan digfragma dan kecepatan rana hasil pengukuran normal. Andaikata hasil pengukuran normal menghasilkan kombinasi f/5,6 dan 1/125 detik, maka bukaan kita perbesar menjadi 1/500 detik (naik 2 stop).
Namun, tidak selalu bisa kita bisa menciptakan kedalaman ruang tajam yang diinginkan pada setiap subjek. Ada kalanya kita harus berkompromi. Contohnya, bila kita ingin membekukan orang sedang berlari. Mau tidak mau kita harus menggunakan kecepatan rana tinggi minimal 1/250 -1/500 detik. Konsekuensinya kita harus menggunakan bukaan diagfragma besar yang memiliki KRT kecil.
Tuntas memahami ruang tajam ini, akan lebih bermanfaat bila kita segera mencobanya dalam berburu foto. Jiaklau kita telah menguasi keterampilan mengatur KRT, berarti kita telah mengiasai salah satu trik fotografi. Ya, trik menghadirkan citra berbeda dari yang terlihat oleh kasat mata . itulah seni fotografi.

Sumber Rujukan:
(pelajaran memotret, memahami ruang tajam : majalah fotomedia)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: